Select Page

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki banyak sekali suku berbeda. Mulai dari suku Jawa, Sunda, Batak, Melayu, Baduy, dan masih banyak lagi. Bahkan orang Indonesia sendiri belum tentu bisa menyebutkan secara lengkap seluruh suku di negeri ini. Akibat dari keberagaman tersebut, budaya yang ditampilkan bun berbeda-beda, termasuk tradisi yang dilakukan tiap suku pun akan berbeda. Ada banyak sekali tradisi unik dari suku-suku di Indonesia yang patut diketahui, contohnya seperti yang ada di bawah ini.

Macam-Macam Tradisi dari Berbagai Suku di Indonesia

  1. Tradisi Gulat Pathol Sarang dari Rembang

Tradisi Gulat Pathol Sarang dari Rembang

Di wilayah Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Rembang, memiliki olahraga tradisional unik yang disebut sebagai Pathol Sarang. Pathol berasal dari kata mathol yang artinya tidak bisa bergerak, yakni karena kamu dan lawan akan saling mengunci dan bertahan sekuat tenaga supaya tidak kalah, mirip Sumo dari Jepang. Bedanya, orang kurus maupun gemuk boleh ikut semua, dan lokasinya dilakukan pada tempat terbuka, bahkan berpasir seperti di pantai.

Hal tersebut karena olahraga ini dulunya dipopulerkan oleh nelayan, dan sudah ada sejak era Majapahit. Dalam permainan ini, peserta juga tidak boleh memukul, menyikut, maupun menendang, tetapi harus sekuat tenaga untuk bisa membanting lawan sampai jatuh. Biasanya juga, Pathol dilakukan pada perayaan Sedekah Laut, dan dengan diiringi musik gamelan.

  1. Tradisi Nopeng dari Suku Dayak Kanayatn

Tradisi Nopeng dari Suku Dayak Kanayatn

Suku Dayak dari Kalimantan memang memiliki banyak tradisi yang unik dan menarik, salah satunya adalah tradisi Nopeng yang dilakukan oleh Suku Dayak Kanayatn, Kalimantan Barat. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk pengingat Suku Dayak kepada roh dewa dan leluhur. Acara dilakukan tiap satu tahun sekali, dan biasanya dilakukan pada 17 Agustus sebagai upaya ikut memeriahkan kemerdekaan.

Ritual biasanya dimulai dengan para pemeran Nopeng yang berada di hutan, mereka akan muncul sebagai simbol para roh alam gaib ketika musik dimulai. Selain pemeran Nopeng, ada juga seorang pendoa yang juga mempersiapkan sesajen seperti ayam, beras putih, kapur, paku, sirih, telur dan juga pabayo. Sementara itu, warga juga memiliki kewajiban untuk menyiapkan pemberian seperti uang, makanan, dan lain-lain.

  1. Tradisi Mapeed dari Bali

Tradisi Mapeed dari Bali

Pulau Bali, selain terkenal karena pariwisata, juga terkenal karena tradisi kebudayaan yang masih melekat kental. Salah satunya adalah tradisi Mapeed. Mapeed sendiri berarti berjalan beriringan, oleh sebab itu akan peserta akan berjalan beriringan, biasanya dengan memakai kebaya putih bagi wanita. Selain itu, mereka juga akan membawa gebobangan, alias rangkaian sesajen maupun buah-buahan yang disusun rapi pada sebuah Dulang yang rata-rata tingginya mencapai 1 meteran.

  1. Tradisi Gredoan dari Suku Osing

Tradisi Gredoan dari Suku Osing

Suku Osing di Bayuwangi, Jawa Timur juga memiliki tradisi unik yang disebut Gredoan. Tradisi ini merupakan salah satu upaya cari jodoh, yang biasanya dilakukan pada perayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W setiap satu tahun sekali.

Pada penerapan tradisi ini, para laki-laki lajang yang sudah cukup umur, akan memasukkan lidi pada sebuah tempat bernama gedhek, yaitu sebuah anyaman bambu yang dimiliki setiap wanita yang ikut serta. Apabila gadis yang gedheknya dimasuki lidi menerima pinangan, si gadis akan mematahkan lidi dari laki-laki tersebut. Namun, pada perkembangannya, laki-laki yang mengikuti tradisi Gredoan ini memang sudah memiliki wanita incaran. Terlebih dengan perkembangan teknologi seperti sekarang, sangat mudah untuk berkenalan dan menjalin komunikasi lewat ponsel. Sehingga ketika proses Gredoan dimulai, si laki-laki dan wanita sudah tahu mana orang yang ingin dipilihnya.

  1. Tradisi Mengejar Ayam untuk Dapat Berkah dari Mondosiyo

Tradisi Mengejar Ayam untuk Dapat Berkah dari Mondosiyo

Tradisi unik yang satu ini dilakukan oleh masyarakat Dusun Pancot, Keluarahan Blumbang dan Desa Tengklik, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar. Acara biasanya dilakukan pada Minggu Pon sampai Selasa Kliwon Wuku Mondosiyo. Dari jangka waktu tersebut, warga akan bersama-sama menyiapkan bahan-bahan, mulai dari beras, ayam, kambing, dan berbagai sesajen lainnya. Kemudian pada Selasa Kliwon, akan diadakan serangkaian kegiatan sakral sejak pagi. Baru jika sudah pukul empat sore, upacara pun dimulai.

Pertama, air badeg yang sudah disiapkan akan disiramkan kepada warga, setelah itu ayam-ayam akan dilepas ke atap. Di bawah, ada warga yang sudah siap menangkap ayam-ayam tersebut. Tujuannya adalah untuk mendapat keberuntungan dan berkah melimpah. Namun, warga tidak diizinkan menangkap ayam di atas atap. Ingin informasi lengkap tentang suku-suku diindonesia? Cek www.superadventure.co.id sekarang juga. Baca juga informasi Aplikasi Desain Baju Android Terbaik 2020.

Open chat
1
Hallo,

Ada yang bisa Kami Bantu?